Sabtu, 28 Mei 2011

KENALI NEGERIMU CINTAI NEGERIMU

Rawa Pening yang Makin Pening akan Masa Depannya

Oleh :Dhanang Dhave

Mahasiswa Pascasarjana Magister Biologi, UKSW Salatiga



Rawa Pening sebagai Danau alam yang menjadi sumber kehidupan disekitar dan sepanjang aliran yang dilaluinya. Memiliki fungsi sebagai penyangga ekosistem dan menjadi habitat bagi beranekan ragam mahluk hidup. Rawa Pening adalah salah satu danau yang berperan penting dalam menjaga kesinambungan kehidupan. Seolah tidak tergantikan perannya, sehingga perlu adanya konservasi, tetapi yang terjadi saat ini adalah exploitasi yang terus-menerus. Keluhan adanya goncangan keseimbangan alam seperti; berkurangnya kwalitas dan kwantitas ikan, pendangkalan dan pengurangan luasan danau  sudah terjadi dan menjadi ancaman dikedepannya.

Rawa Pening yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang dikelilingi 3 kecamatan, Ambarawa, Tuntang dan Banyubiru. Sekitar 19 sungai bermuara di Rawa Pening dan 1 sungai yang menjadi out put-nya. Debit air yang banyak menjadikan Rawa Pening sebagai irigasi untuk pertanian, pemutar turbin PLN, perikanan dan wisata air. Fungsi Rawa Pening yang sangat vital seolah menjadi jantung kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.
Peran penting Rawa Pening sebagai fungsi Ekologi, wisata, pertanian dan ekonomi begitu menjadi andalan, tetapi ada fungsi lain yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai media edukasi. Rawa Pening layaknya laboratorium alam dengan biodiversitas yang cukup tinggi. Plasma Nuftah yang masih terjaga seolah menjadi harta karun yang tak ternilai dari sisi ekologinya. Keanekaragaman hayati bisa menjadi bahan pembelajaran dan menjadi laboratorium alamnya. Tak kalah bagi para penikmat keindahan dan dengan kamera bisa mengabadikan keindahan disetiap sisi-sisinya.


Kondisi Rawa Pening saat ini menjadi fokus keprihatinan terhadap kondisi ekologis yang terguncang akibat ekploitasi yang tidak terkendali. Penangkapan ikan air tawar yang terus menerus mengakibatkan penurunan drastis jumlah tangkapan. Tidak adanya masa rehat pada musim-musim tertentu untuk memberi kesempatan ikan berkembang biak atau tidak adanya penambahan benih ikan. Akibat penangkapan terus menerus terjadi penurunan kwantitas hasil tangkapan.
Guncangan ekologis terlihat jelas seperti adanya booming tanaman Eceng Gondok yang tumbuh tak terkendali. Tanaman air asal Amerika Selatan sepertinya menjadi penguasa Rawa Pening dan mengakibatkan pendangkalan, mengurangi luasan permukaan danau dan menutupi keindahan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan perkembangbiakan Eceng Gondok, namun belum efektif karena tidak tahu mau diapakan tanaman tersebut dalam jumlah yang besar.
Pemanfaatan Rawa Pening sebagai obyek wisata sepertinya belum difugsikan secara maksimal. Mungkin hanya Wisata Bukit Cinta yang terletak di Kecamatan Banyu Biru yang dijadikan tempat wisata di pinggir Rawa Pening. Obyek wisata air semestinya perlu ditingkatkan dengan penambahan obyek wisata dan pernak-perniknya. Potensi wisata yang besar seperti wisata Mancing, olah raga air atau wana wahana permainan air bisa digali lebih dalam untuk menarik wisatawan.

Pentingnya upaya konservasi untuk menembah umur Danau alam tersebut lewat kesadaran lingkungan harus dilakukan agar terjaga keberadaannya. Kesadaran menjaga lingkungan dari masalah sampah, pengendalian exploitasi, ramah terhadap pemanfaatan sumberdaya alam yang ada bisa dijadikan solusi untuk menjaga kehidupan di Rawa Pening. Kondisi yang terjaga bisa memunculkan sejuta keindahan yang tak ternilai keindahannya.

Sumber:
www.dhave.co.nr 
http://wisata.kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar