Minggu, 22 Mei 2011

APOLOGETIK IMAN KATOLIK

Pantaskah Kita Menjadi Seorang Katolik Sejati ?
Oleh : Ancilla Alfionita Intan C

Hari raya Paskah telah berlalu, semua umat kristiani di seluruh dunia merayakan hari suci itu, di mana Yesus Kristus sang Penebus dunia telah bangkit. Tema yang diambil adalah “Inilah Orang Katolik Sejati”. Yang harus kita renungkan adalah apakah kita sanggup menjadi katolik sejati? Bagaimana cara kita menjadi seorang katolik sejati? Makna apa yang tersirat di balik kebangkitan Yesus sendiri?.
          Sebenarnya kita sebagai umat kristiani sudah menemukan jawaban dari pertanyaan itu, tetapi sering kali kita hanya fokus pada hal duniawi dan tidak fokus pada batiniah kita sendiri.  Seharusnya kita malu pada diri sendiri, renungkanlah setiap perbuatan yang kita lakukan semasa hidup, apakah sudah berguna bagi orang lain, apakah perilaku kita sudah mencitrakan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah yaitu kasih? Pantaskah kita menjadi murid yang selalu dibanggakan oleh-Nya?
        Dalam renungan ini kita akan membahas seberapa jauh kita telah menjadi katolik bahkan sebagai katolik sejati. Kita tahu bahwa dibaptis merupakan tanda bahwa kita telah menjadi anggota baru gereja. Sebagai anggota baru gereja kita mempunyai tugas yaitu melayani Tuhan. Dalam arti kita harus berpartisipasi dalam kegiatan intern gereja  sebagai wujud syukur kita kepada-Nya. Untuk lebih menguatkan diri sebagai anggota gereja, kita menerima komuni (Sakramen Ekaristi). Saat komuni itulah kita harus lebih banyak berperan lagi terhadap usaha pengembangan gereja ke depan. Kita harus bisa menjadi salah satu anak Allah yang taat pada ajaran-Nya. Sebagai seorang Katolik yang sudah menerima tubuh kristus berupa hosti yang dibagikan. Contoh pelayanan yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadi putra altar (menjadi pelayan Romo) pada saat misa berlangsung. Tugas pelayanan tersebut mungkin dilihat sebagai sesuatu yang biasa, tetapi jika kita renungkan, ada rasa bangga dalam diri , ketika kita bisa melayani Allah dengan sepenuh hati.
       Sebenarnya dari hal-hal sekecil itulah yang mengarahkan kita untuk lebih ikut andil sebagai anggota gereja Katolik. Tugas satu-satunya untuk melayani tidak hanya menjadi seorang putra-putri altar, tetapi kita juga bisa mengikuti kegiatan PIR (Pendamping Iman Remaja). Jadi ada banyak cara yang terbuka untuk kita. Seiring dengan bertambahnya umur, dan semakin beranjak dewasa, saat ketika masa SMP atau SMA, kita harus mengikuti Sakramen Penguatan dari gereja. Artinya, sakramen itu memperkuat kita sebagai salah satu anggota gereja, dan sudah diakui secara universal. Kita naik satu tingkat menjadi lebih dewasa dalam konteks gereja. Banyak hal yang dapat dillakukan setelah kita mendapat sakramen penguatan, mengikuti kegiatan muda-mudi katolik di lingkungan, atau menjadi tatib (tata tertib) pada saat misa.
     Seperti yang tertera dalam kitab suci, kita sebagai umat katolik harus setia mengikut Allah, prinsip menjadi orang Katolik sampai akhir hidup harus dipegang teguh. Kekatolikan sejati dibentuk melalui proses, oleh sebab itu lakukan prosesnya dengan baik dan sepenuh hati. Menjadi orang Katolik memang tidak sekedar mendengar dan mengetahui ajaran-ajarannya saja, tetapi juga harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Kesejatian hidup orang Katolik nampak dalam implementasi atau perwujudan nilai-nilai ajaran iman yang telah kita miliki sejak kita dimateraikan dalam baptisan suci sebagai murid Kristus.

Mewujud
Paskah bukan sekadar upacara ataupun peristiwa masa lampau saja. Lilin Paskah yang dinyalakan setiap perayaan Paskah selalu diberi tanda tahun ketika Paskah itu dirayakan. Harapannya, agar warta Paskah diwujudkan dalam realitas sosial. 
Dalam berbagai kesempatan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat untuk selalu hadir bersahabat, terlibat dalam usaha membangun persaudaraan dan kesejahteraan bersama di tengah-tengah realitas masyarakat yang kompleks. Surat yang ditulis oleh para uskup dalam Sidang KWI, 12 November 2010, mengajak umat untuk melihat realitas kemiskinan yang, antara lain, disebabkan oleh belum tampaknya kebijakan politik dan ekonomi yang secara kasatmata berpihak pada orang kecil. Surat yang sama mengajak umat untuk menyadari bahwa sikap intoleransi yang dirasa semakin mencemaskan dan korupsi yang semakin berbau busuk dapat merusak kehidupan bersama dan persaudaraan di tengah masyarakat. 
Kemiskinan, intoleransi, dan korupsi itu membuat hidup menjadi sangat kurang manusiawi. Di tengah-tengah realitas semacam itu umat Kristiani yang merayakan Paskah, baik secara pribadi maupun bersama-sama, ditantang untuk menjawab pertanyaan ini, ”Apa yang harus saya atau kita lakukan agar kehidupan bersama di lingkungan kita menjadi semakin manusiawi?” Menjawab pertanyaan ini berarti menghayati pesan Paskah. Bekerja sama menanggapi tantangan itu berarti membangun komunitas Paskah. Selamat Paskah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar