Selasa, 12 Juli 2011

BERITA UTAMA

SUARA MERDEKA -11 Juli 2011
Festival Lima Gunung X

Keramahan Desa Menyapa Kota

image
SM/Juli Nugroho
LIMA GUNUNG: Sejumlah seniman menampilkan tarian dalam acara pembukaan Festival Lima Gunung (FLG) Ke-10 di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Minggu (10/7). Acara tahunan itu menyajikan sejumlah atraksi seni dan budaya para petani yang berasal dari lima gunung, yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Menoreh, dan Sumbing.(30)
TIDAK ada yang istimewa dari suguhan pertunjukan Festival Lima Gunung (FLG) Ke-10 di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Sabtu-Minggu (9-10/7) kemarin.
Hampir tak ada produk atraksi baru. Kostum penari topeng ireng, grasak, hingga jatilan masih sama seperti tahun-tahun lalu. Suara jedor, saron, bende, dan seruling juga mengalun dengan irama dan ketukan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Keistimewaan justru ada pada sosok-sosok warga desa di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Hampir setiap rumah menyediakan makanan dan minuman bagi para pengisi acara dan pengunjung.
Senyum warga Keron mengembang ketika berpapasan dengan orang asing di jalan, diikuti tuturan sapa ala desa ’mangga’ (silakan-red). Kalau kebetulan orang desa itu ada di depan rumahnya dan pengunjung melewati halamannya, kalimat bertambah panjang ’’mangga pinarak (silakan mampir-red)’’.
Bertambah panjang pula acara ramah tamah itu jika pengunjung benar-benar mampir ke rumah. Suguhan camilan nagasari, pisang goreng, peyek, dan rengginang terhampar di meja, ditambah segelas teh hangat, akan menambah akrab suasana kekeluargaan.
Apa Adanya
Tak ada perbincangan politik atau lobi khusus dalam pertemuan pengunjung dan warga desa setempat. Pemilik rumah merasa tersanjung jika segelas teh itu habis dan bungkus makanan nagasari berserakan di meja. Begitulah kira-kira bahwa tamu dianggap raja bagi mereka.
Orang kota datang ke desa mengenakan pakaian bagus, mengendarai mobil, membawa tas besar berisi perangkat digital yang mahal harganya. Jadi pantaslah dianggap raja.
Berbanding terbalik dengan orang desa, mengenakan pakaian apa adanya, bahkan ada yang mengenakan kaus partai sisa produksi Pemilu 2009.
Namun, lupakan soal politik. Sejenaklah bersenang-senang dalam pergelaran FLG.
’’Seni itu senang, jadi di sini adalah bersenang-senang. Tak ada kalimat yang lain kecuali bersenang-senang. Kalau orang kota, ’seni’ itu justru jorok karena sama dengan toilet,’’ kata pimpinan Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut, saat meluncurkan buku ’’Jalan Sufi Seniman Merapi’’ dan pembukaan pameran foto.
Penghormatan tertinggi dari Tanto, panggilan akrabnya, diberikan kepada ibu-ibu dan nenek-nenek di Keron. Selama kurang lebih tiga hari tiga malam, mereka berjuang di dapur memasak jajan dan nasi untuk kemudian disuguhkan kepada tamu. Tanpa mereka, geliat kesenian itu tak ada, begitu juga dengan FLG.
’’Ibu-ibu adalah sosok istimewa. Mereka dengan ikhlas berkeringat kepanasan di dapur, demi kemuliaan para tamunya,’’ ujar Tanto.
Kearifan desa itu seperti memberikan pendidikan betapa pentingnya ketulusan dan keihklasan. ’’Kearifan itu akan tetap menjadi bagian dari budaya yang diwariskan anak cucu ketika didokumentasikan dalam bentuk buku dan foto,’’ kata KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dalam acara peluncuran buku itu.
Dokumentasi itu, menurut dia, menjadi pengingat 15 tahun atau 30 tahun lagi bahwa dahulu di desa-desa itu masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa. Seperti gotong-royong dan menghormati tamu yang kini mulai luntur.
’’Bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah dan ikhlas adalah nilai-nilai yang melekat pada desa. Bentuk syukur itu salah satunya digelar nyadran dan sedekah desa, ini yang harus tetap dilestarikan,’’ katanya.
Menurutnya, keramahan desa mungkin saja menjadi benteng terakhir bagi bangsa ini, yang selalu marah-marah dan arogan. Bahkan gampang dan enteng mengucapkan kalimat ’’kafir’’ dan ’’musyrik’’.
’’Itulah warna desa yang harus tetap dipertahankan sampai kapan pun,’’ katanya. (Sholahuddin al-Ahmed-69,43)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar