Senin, 09 Mei 2011

BAHASAN UTAMA

LEARNING IS TRANSFORMING LIFE
Motto SMA Negeri 5 Semarang

oleh:
Drs. Yitno Widya, M.M. dan Grace Yeh Shiang, S.Pd. 
Ketika Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan digulirkan, maka setiap satuan pendidikan harus memiliki kurikulum sendiri yang disusun berdasarkan Standar Isi. Kurikulum yang dulunya adalah kurikulum nasional sekarang menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Setiap satuan pendidikan mempunyai kurikulum keunggulan yang berbeda dengan satuan pendidikan yang lain.

Sebuah kurikulum bukan hanya terbentuk dari Standar Isi saja, tetapi dalam kurikulum ada VISI, MISI, TUJUAN dan Program-program untuk mencapai VISI satuan pendidikan tersebut. Tak kalah pentingnya adalah MOTTO sebuah satuan pendidikan. Penulis jadi teringat sebuah produk kendaraan roda empat yang diiklankan di televise di era tahun 2000-an. Di iklan tersebut dikatakan : “ Naik Panther, ……….Pinterrrr!!!!” Iklan tersebut menyiratkan bahwa setiap orang yang naik mobil Panther, beli dan punya mobil Panther adalah orang yang pandai atau pinter. Kenapa? Karena kata iklan tersebut kendaraan Panther itu perawatannya mudah, BBM-nya irit dibanding merek lain, mesinnya tangguh dan bodi mobilnya kuat, dan sebagainya, dan sebagainya. Dengan demikian motto merupakan pesan keunggulan produk dari sebuah produk yang ingin disampaikan produsen secara singkat namun menyiratkan makna yang tepat.

Pada tahun ajaran 2011/2012 nanti SMA Negeri 5 Semarang mencanangkan Motto pendidikannya : Belajar adalah Mentranformasi Hidup (Learning is Transforming Life). Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan oleh SMA Negeri 5 Semarang lewat motto tersebut?

Belajar adalah sebuah perubahan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Dalam Kamus Wikipedia Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreativitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Akhmad Sudrajat (2008) mengatakan bahwa belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.

Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Dari pendapat diatas dapatlah disimpulkan bahwa perubahan pada seorang peserta didik yang meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan juga perilaku (afektif). Untuk mengukur perubahan, pasti ada target belajar yang harus dicapai. Untuk mencapai target yang memuaskan harus didukung dengan desain pembelajaran yang baik, fasilitas belajar yang menunjang, dan kreativitas pendidik dalam membantu peserta didik belajar.

Transformasi
Akhir – akhir ini banyak orang mulai menggunakan kata transformasi. Kata ini berkembang dan dipakai oleh banyak orang dan didengungkan orang terutama setelah era Reformasi. Memang berbicara transformasi tidak bias terpisah dengan reformasi karena kedua kata ini mengandung arti yang identik.

Asal kata “Transformasi” berasal dari bahasa Inggris yang secara kesepakatan umum diserap kedalam bahasa Indonesia. Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikan Transformasi sebagai berikut:
1. Transformasi adalah perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dsb)
2. Transformasi adalah perubahan struktur dengan menambah, mengurangi, atau
     menata kembali unsur-unsurnya.

Pengertian yang sama dijelaskan oleh kamus yang lain yaitu Advanced English-Indonesian Dictionary (1988) menjelaskan yang dimaksud transformation adalah perubahan bentuk dan dalam bentuk kata kerja merubah bentuk.

Selanjutnya, Oxford Learner’s Pocket Dictionary (1995) menyebutkan transform sebagai kata kerja adalah ”change completely the appearance or the character of”. Berarti perubahan bentuk penampilan atau karakter secara total.           

Jadi berdasarkan arti kata diatas maka “transforming”  atau men·trans·for·ma·si·kan berarti mengubah kualitas, mengubah struktur dasar menjadi struktur yang lebih baik dengan menerapkan kaidah-kaidah tertentu yang menyebabkan transformasi atau perubahan terjadi. Transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah tetapi tidak radikal. Itulah sebabnya perubahan yang terjadi karena belajar tidak bersifat radikal, ada proses pembelajaran didalamnya.

Setiap peserta didik di SMA Negeri 5 Semarang mengalami proses pembelajaran dalam kurun waktu 3 tahun, dimana dalam kurun waktu tersebut peserta didik SMA Negeri 5 Semarang diharapkan mengalami perubahan dalam cara berpikir, berubah dalam cara menyikapi situasi-situasi di sekolah, mengalami perubahan secara perilaku sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia serta cita-cita luhur para pendahulu kita. Selain itu setiap peserta didik SMA Negeri 5 Semarang akan menjadi terampil atau lebih terampil dalam aspek kecakapan hidup (life-skill).

Kehidupan
Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yaitu keadaan yang tidak mati. Meminjam istilah dalam ilmu biologi, kehidupan mempunyai ciri-ciri tertentu yang mencakup keteraturan, produktif atau berbuah,dinamis atau berkembang, adanya respons terhadap lingkungan, mampu beradaptasi

Dalam hidup yang harmoni ada keteraturan, keselarasan dan kesinergian. Keteraturan membuat segala sesuatu dapat berjalan sesuai dengan konsep dan kaidah sehingga tujuan atau target dapat tercapai.

Kehidupan seharusnya produktif dan berbuah, karena apabila tidak produktif dan berbuah akan statis, mandul, membosankan dan akhirnya mati.

Kehidupan yang produktif menunjukkan kehidupan yang dinamis dan berkembang. Dinamis berarti maju ke depan, bukannya mundur kebelakang. Berkembang berarti menjadi luas dari keadaan yang ada sekarang.

Hidup bukanlah untuk diri sendiri karena kita adalah makhluk sosial yang selalu menjalin hubungan dengan sesama dan lingkungan dimana kita hidup. Dengan demikian kita menjadi peduli dengan orang lain dan alam dimana kita hidup.

Hidup terkadang memang tidak mudah, namun kehidupan harus bisa beradaptasi dengan kesulitan- kesulitan sehingga kita bisa menemukan cara untuk mengatasi setiap kesulitan yang kita hadapi.

Setelah mengalami proses pembelajaran selama 3 tahun di SMA Negeri 5 Semarang, peserta didik mengalami tranformasi atau perubahan dalam cara berpikir, bersikap ,berperilaku serta terampil. Dengan perubahan ini, maka kehidupan, cakrawala, pandangan hidup mereka tentunya akan berubah pula.

Peserta didik akan memaknai di dalam dirinya kehidupan yang teratur ( well-organized), menghargai waktu, menghargai orang lain dan karya orang lain, menjadi pribadi yang disiplin dan patuh akan norma-norma serta hukum dan undang-undang yang berlaku di masyarakat. Keteraturan dapat diterapkan bukan saja pada saat jam sekolah dengan hadir tepat waktu, bisa pula pada saat berkendaraan di jalan, keteraturan pada jam kerja dan etos kerja pada saat mereka telah bekerja, keteraturan membayar pajak sebagai warga negara yang taat pajak dan masih banyak bidang lain.

Peserta didik SMA Negeri 5 Semarang diharapkan akan produktif dan berbuah dalam artian hidup mereka menjadi berguna bagi negara, bangsa , masyarakat , dan lingkungan dimana mereka bekerja. Mereka adalah orang-orang yang proaktif, rajin bekerja, berpikir kritis dan kreatif untuk kemajuan negeri ini. Mereka juga menjadi dinamis dan berkembang dalam kehidupan , berpikir dan berupaya untuk terus maju ke depan, memiliki motivasi untuk menjadi yang terdepan dan unggul dalam bidang iptek, seni budaya dan olah raga.

Sebagai makhluk sosial, peserta didik SMA Negeri 5 Semarang juga perduli akan masyarakat di sekitarnya, peduli akan penderitaan sesame dan mereka yang hidupnya kurang beruntung. Bukan hanya itu, mereka juga perduli dengan alam dan lingkungan dimana mereka hidup, dengan melestarikan alam sekitar, menghindari hal-hal yang dapat merugikan alam, misalnya membuang sampah sembarangan, perduli dengan kebersihan lingkungan, menghemat listrik, ikut bertanggung jawab memelihara fasilitas umum dengan baik

Sebagai makhluk tertinggi yang diciptakan oleh Tuhan, peserta didik dapat mempergunakan akal pikirannya yang telah terlatih selama belajar di SMA Negeri 5 Semarang untuk memecahkan setiap masalah–masalah kehidupan, dengan berpikir kritis, kreatif serta ilmiah, serta mampu beradaptasi dengan segala keadaan, tidak mudah putus asa, sabar, mandiri, ulet dan tangguh.

Last but not least, terakhir tetapi ini bukan yang hal yang remeh, dengan motto ini pula, diharapkan setiap siswa SMA Negeri 5 juga memiliki jiwa inovatif sebagai akibat transformasi dalam kehidupan mereka. Keinovatifan mereka diharapkan akan terlihat ketika mereka duduk di bangku kuliah atau setelah mereka lulus dari bangku kuliah, sebagai insane yang selalu berusaha mencari inovasi-inovasi dalam bidang yang ditekuninya.

Demikian uraian Motto SMA Negeri 5 Semarang. Namun Motto tinggallah sebuah Motto, berupa tulisan mati, apabila tidak difahami, dimaknai dan mendapat dukungan dari segenap warga SMA Negeri 5 Semarang. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama bersinergi untuk mewujudkan apa yang telah kita tuliskan dalam visi, misi dan motto.


1 komentar:

  1. Perlu diiklankan
    Perlu disoasialisasikan
    perlu penghayatan/pemaknaan diri tiap warga SMALA
    perlu waktu
    perlu kepedulian

    BalasHapus